Prediksi 2016 : Iklan Mobile Kian Booming

Mobile Advertising
Pernah mendapat SMS promo diskon produk tertentu saat sedang jalan -jalan di pusat perbelanjaan ? atau kita sering melihat iklan setiap kali menyelesaikan satu level permainan dalam sebuah game ?

Jika jawabannya dalah 'Iya', yang kita lihat tersebut adalah bentuk - bentuk mobile advertising alias iklan mobile. Meski porsi iklan jenis ini terlihat masih sedikit, namun potensi bisnisnya tak bisa dipandang sebelah mata.

Tahun lalu (2014) bisnis digital advertising (iklan digital) secara umum melibatkan uang hingga 500 juta dolar, atau sekitar 6,5 triliun rupiah. Itu baru digital advertising saja, yang merupakan bagian dari bisnis advertising secara keseluruhan.

"Dari angka tersebut, mobile advertising (iklan melalui sarana mobile) hanya mendapat porsi 10% atau kurang lebih 35 juta dolar dari total digital advertising. Yang membedakan antara mobile advertising dengan digital advertising secara keseluruhan adalah bahwa targetkan iklan mobile memang khusus untuk konsumen yang mengakses perangkat bergerak tersebut. Sedangkan digital advertsing mencakup layanan digital iklan untuk dekstop, laptop dengan menggunakan jalur internet seperti misalnya layanan dari Google". Demikian diungkapkan oleh Ongki Kurniawan, Chief Digital Services Officer XL Axiata.

"Meski porsi untuk digital advertising masih sedikit, namun jika menilik hasil riset dari lembaga survey, tahun 2020 size of businessnya akan mencapai 91 triliun".

Sedangkan porsi mobile advertising akan meningkat 60% atau sekitar 54 triliun. Jadi, diperkirakan setiap tahun hingga 6 tahun ke depan angka pertumbuhan mobile advertisingnya akan mencapai rata -rata 120% (triple digit). Jadi, mobile advertising tidak bisa dipandang sebelah mata dan merupakan bisnis yang atraktif terutama karena menggunakan banyak inventory dari mobile. Disini peranan operator sangat besar," lanjut Ongki.

Mobile Advertising / Iklan Mobile

Mobile versus Televisi

Mengapa bisnis mobile advertising berkembang begitu pesat dibandingkan dengan advertising secara keseluruhan ? Pertama dari sisi perilaku pelanggan yang merupakan audience dari iklan itu sendiri. Perangkat mobile dan aplikasinya merupakan sesuatu yang kini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari - hari.

Waktu yang dihabiskan konsumen untuk mengakses perangkat smartphonenya kini sama dengan waktu yang mereka habiskan untuk menonton media advertising terampuh saat ini : televisi.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa uang advertising sebagian besar masih ditempatkan di televisi ? Sedangkan televisi mungkin akan menjadi tidak efektif lagi menyampaikan pesan. Media televisi tetap penting bagi dunia periklanan, tapi mobile akan menjadi media yang lebih efektif.

Mengapa mobile advertising lebih efektif ? Yang pertama, coba lihat iklan televisi. Sebagai perbandingan, iklan di TV lebih bersifat one way atau satu arah dan ditayangkan dalam waktu tertentu. Kita mengenal istilah waktu terbaik bagi tayangan iklan di televisi, yaitu peak hour, dimana orang - orang banyak berkumpul di depan TV.

Lain televisi, lain mobile. Mobile bersifat two-ways alias dua arah dan interaktif. Semisal pelanggan mobile diekspos oleh sebuah iklan yang menawarkan suatu produk, ia akan memiliki pilihan untuk me-reply, memutuskan sesuatu, atau meminta untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Selain itu, bagi perusahaan, feedback dari iklan mobile tersebut bersifat instan dan bisa dimonitor secara real time.

Yang kedua dan menarik, khususnya untuk orang Indonesia, aplikasi mobile bisa di-share dan di-forward. Iklan di TV hanya berlaku satu level, efek iklan akan berhenti pada konsumen yang terpapar iklan tersebut. Sedangkan konsumen mobile bisa melakukan tindakan lebih lanjut, seperti sharing di sosial media. Jadi, penganruh sosial element dalam mobile advertising cukup besar.

Ketiga, coba kita bandingkan target iklannya. TV bersofat nasional. Cakupan iklan di radio mungkin berada di level kota, sementara billboard atau papan reklame efektif di spot tertentu saja. Namun, jika kita menilik mobile advertising, perusahaan bisa melakukan penentuan target yang sangat presisi. Sebagai contoh adalah SMS LBS yang biasa kita terima di pusat perbelanjaan. Jadi mobile advertising sangar kontekstual, interaktif, shareable, dan sekali lagi presisi.

Pengaruh Generasi Milenia !

Istilah generasi milenial pertama muncul di Amerika. Milenial disini merujuk pada generasi yang akrab dengan smartphone, komputer, dan internet. Mereka cenderung mudah menyesuaikan diri dengan aplikasi - aplikasi dan sistem operasi baru, dan melakukan tugas - tugas berberbasis komputer lebih cepat dibandingkan dengan generasi tua. Mereka juga mampu melakukan perkerjaannya secara multitasking.

Milenium umumnya nyaman dengan kehidupan internet publik dan sosial media. Artinya, mereka punya kemampuan untuk mempromosikan diri dan berinteraksi melalui media online. Lalu mengapa mereka mempengaruhi pola iklan mobile ? Menurut survei, saat ini segmen milenial ini sudah tak lagi duduk manis di depan televisi. Mereka sudah meninggalkan TV alias tidak lagi menonton TV. Bahkan, 40% dari kaum milenial di Amerika sudah tidak lagi memiliki TV.

Mereka tidak lagi mengkonsumsi konten video melalui TV, melainkan melalui mobile. Hal ini tentu menimbulkan pergeseran pola konsumsi iklan dari yang dulunya berpusat di layar kaca, menjadi bergeser di smartphone dan tablet. Hal ini mau tidak mau harus menjadi perhatian para pemilik brand. Mereka sekarang harus bisa jeli soal penempatan iklan.


Prediksi 2016 dan Demokratisasi Advertising

Tahun 2016, dengan dorongan teknologi LTE, kemungkinan akan lebih banyak lagi konten video yang dikonsumsi oleh masyarakat. Pola advertising akan berpindah ke website dan konten video seperti YouTube dan lain sebagainya.

Lebih dari 50% konsumsi video diperkirakan akan terjadi di mobile. Banyak penyedia layanan aplikasi dan e-commerce yang sekarang menerapkan kebijakan mobile first. Jadi, saat mereka membuat aplikasi atau layanan, platform mobile tersebut akan menjadi prioritas utama. Dengan demikian, pertumbuhan mobile advertising di 2016 diyakini akan lebih tinggi lagi.

Layanan mobile Advertising juga tampaknya tak lagi didominasi oleh korporat besar.Contohnya, operator seperti XL mulai menyiapkan platform layanan DigiBiz untuk dunia UKM. Mobile advertising dinilai sangat affordale untuk UKM mengingat beberapa keunggulannya dibanding model lainnya., juga efektifitas dan pilihan harganya. Diyakini, mobile advertising yang akan "mendemokratisasi" advertising yang selama ini identik dengan biaya mahal dan hanya untuk brand besar.

Sumber : Majalah Pulsa edisi 325 Th XIII / 2015 / 09 - 22 Desember 2015
Prediksi 2016 : Iklan Mobile Kian Booming Prediksi 2016 : Iklan Mobile Kian Booming Reviewed by Ryan Anggasaputra on 11:48:00 PM Rating: 5

No comments:

Ads

Powered by Blogger.